3

Mike Portnoy named in top 50 DRUMMERS OF ALL TIME (2009)

| Kamis, Desember 31, 2009
Rhythm Magazine out of the UK took a poll of its readers for the 50 greatest drummers of all time. As Mike said here:

When I saw the October 2009 issue of UK's Rhythm Magazine with the '50 Greatest Drummers of All Time' reader's poll on the cover, I must admit I was curious to open it up and see if I had made the Top 50...
Well, after quickly scanning through the 40's, 30's and 20's and not seeing my name, I was beginning to sadden that perhaps I didn't make the cut.... : (
But then I read on and was surprised to eventually find myself all the way at the top of the list at #5!
Thank you to all the drummers that voted me into such a prestigious poll....
I am truly flattered and honored to be held in such high regard with some of my greatest drumming heroes!
Thanks for all the love :)
Mike Portnoy
The top 5 were...
  1. John Bonham
  2. Buddy Rich
  3. Keith Moon
  4. Neil Peart
  5. Mike Portnoy
4

Sejenak Bersama Seorang Pahlawan

| Selasa, Desember 29, 2009

“Teeeeet….teeeett!!!”. suara klakson mobil yang melaju pelan hampir saja menyenggol tubuhku yang menyelinap diantara kendaraan yang sedang macet. Aku terus berlari kecil, tak kuhiraukan omelan sopir angkot yang merasa terganggu ketika aku melintas di depan mobilnya. Sesekali aku melirik casio yang melingkar ditangan kiriku.

“Ah mudah-mudahan tidak telat.” fikirku.

Hari itu aku berencana pergi menghabiskan liburan akhir tahunku di tempat familiku di daerah Cilacap. Kroya, nama kota kecil yang kutuju. Kota yang telah lama sekali tidak aku kunjungi. Walaupun dulu aku juga bukan orang yang terlalu sering mengunjungi kota ini. Seingatku baru duakali Aku mengunjunginya. Pertama aketika aku masih kelas empat SD dan kedua ketikaku kelas dua SMU. Kini… aku telah kuliah tingkat empat. Ya waktu yang cukup lama. Astagfirullah.. mudah-mudahan Alllah mengampuniku, sepertinya aku termasuk orang yang terlalu menyibukan diri dan jarang bersilaturahmi kepada sanak famili. Aku masih teringat ketika pertama kali berkunjung ke kota ini, memang tidak ada yang eneh, paling-paling pantai Widarapayung dan pantai Srandil, bagi orang lain yang sering bepergian tempatnya mungkin tidak terlalu indah tapi bagiku tidak. Semua pantai indah sepertihalnya pantai -pantai lain yang terkenal dan telah memperoleh sentuhan dari para investor. Ya bagiku yang tinggal di daerah yang jauh dari laut, semua pantai adalah indah, tanpa terkecuali kedua pantai itu.

“Alhamdulillah keretanya belum berangkat.” Gumanku dalam hati.

“Tiketnya satu Mbak.” Kataku kepada wanita petugas loket tiket perjalanan. Biasanya aku jika memasuki tempat yang jarang aku datangi, aku selalu menyempatkan diri melihat-lihat di sekitarnya.Tapi kali ini karena telat, tanpa basa-basi aku langsung membeli tiket kereta perjalanan kelas Rakyat …kelas ekonomi.

Suasana stasiun Kereta Kiaracondong tampak dijejjali oleh para penumpang dan pedagang asongan.

Bergegas aku memasuki pintu masuk Stasiun dan menyodorkan potongan kertas kecil tiket kepada salah seorang penjaga pintu masuk. “Maaf Pak ,,kereta yang ke Kroya yang mana?” tanyaku agak bingung, sebab didepanku ada dua kereta yang siap berangkat.

“Itu di jalur tiga, cepat naik sepertinya mau berangkat!” jawab petugas pintu itu sambil menunjuk kereta yang dia katakana. Lengkingan suara lokomotif tanda kereta akan segera diberangkatkan terdengar begitu keras memekakan telinga. Aku segera meloncat menaiki gerbong kedua.

“Nak disini…!” kata seorang Bapak tua yang tempat duduknya berada hanya beberapa meter dari tempatku berdiri. Aku menghampirinya dan mengambil tempat duduk tepat disisi jendela. Sambil tersenyum kuucapkan terima kasih.

“Alhamdulillah akhirnya dapat tempat duduk juga,” aku bersyukur dalam hati. Sesaat Aku memperhatikan suasana dalam gerbong kereta tempat ku berada. Suasana memang agak terlihat kumuh. Para pedagang asongangan berlalu lalang disepanjang gerbong kereta menawarkan dagangannya. Ada yang menawarkan dengan lemah lembut, ada yang setengah memaksa, ada juga seperti orang butuh ngak butuh sama pembelinya, mungkin dia sudah cukup capek menjajakan jualannya. Beberapa pengemis dan pengamen juga terlihat ikut berbaur degan para pedagang. Maklumlah kereta kelas ekonomi. Kereta buat rakyat kecil yang tidak mampu.

“Hai kamana wae yeuh? (kemarin kemana aja nih?)” teriak salah seorang pedagang dengan logat sundanya yang kental ketika berpapasan dengan teman seprofesinya.

“Eh…kamarimah pere’ heula cape’ (kemarin libur dulu nih)”. jawab si pedagang yang ditanya sambil tetap mengasong-asongkan dagangannya kepada para penumpang. Sesekali aku tersenyum dalam hati melihat tingkah laku para pedagang dan penumpang yang saling tawar menawar harga atau gerutuan penumpang yang meras terganggu oleh para pedagang. …yah pemandangan orang kecil yang tidak pernah aku temui dikampus. Sepertinya benar apa yang pernah dikatakan salah seorang ustadz bahwa sesekali kita sebaiknya bepergian ketempat lain agar kita tidak merasakan kejenuhan hidup.

“Jeruknya Pak ,mas!” tawar seorang padagang asongan menawarkan buah jeruk yang didagangkannya. “Ndak pak” jawab laki-laki disampingku . Aku hanya tersenyum dan mengangkat tanganku setengah, menandangan penolakan secara halus atas tawaran padagang tersebut. Padagang yang usianya sepertinya sudah cukup tua itu hanya balik tersenyum.

“Ini manis lho mas, boleh coba dulu kalau mas nggak percaya”. Tawar lelaki itu kembali untuk meyakinkanku dengan logat jawanya yang kental. Tanganku menerima beberapa potongbuah jeruk yang dia tawarkan dan memakannya. Setelah menanyakan harga segera aku mengeluarkan uang untuk membayarnya. Sebenarnya Aku ingin membeli jeruk yang tawarkan oleh laki-laki tua itu bukan karena aku ingin makan buah jeruk, tetapi lebih kepada perasaan ibaku melihat kondisi fisik lelaki tua itu. Lelaki tua berjalan pincang dengan bola mata kirinya yang tampak pemutih tanda sudah tidak bisa lagi dipakai untuk melihat. Guratan wajah tuanya sepertinya menampakan banyaknya pengalaman hidup.

“Priiiiiit…….priiiiiiiit “. terdengar suara peluit petugas pemberangkatan, diikuti oleh lengkingan suara lokomotif. Sementara information center juga memberikan pengumuman bahwa kereta ekonomi jurusan kroya segera di berangkatkan. Beberapa pedagang asongan segera berhamburan keluar dari pintu gerbong, sementara yang lain tanpa terpengaruh sedikitpun tetap menjajakan dagangannya. Aku perlahan mengucapkan basmalah bersamaan dengan Kereta yang mulai melaju. “Bismillahirrahmaanirrahiim…..”

***

Gesekan besi baja roda dengan rel kereta seakan menjadi nada-nada lagu unik yang tengah aku nikmati. Suaranya seakan ikut mengiringi fikiranku yang tengah mengagumi indahnya pemandangan alam selepas kota Bandung. Hamparan sawah, kolam ikan serta rawa-rawa dan hutan hijau seolah-olah saling berbicara satu sama lainnya. Sepertinya waktu itu aku lupa kalau kota Bandungku sering dihiasi oleh kesumpekan orang-orang yang memadati mall-mall serta jalanan yang kini kian tambah macet disana-sini.

“Nak, mau kemana?” suara seorang laki-laki yang duduk di samping membuyarkan fikiranku yang tengah menerawang jauh.

“Ooh.. mm.. mau ke Kroya pak. Bapak mau kemana?” jawabku singkat, sambil balik bertanya sekedar menutupi rasa kagetku.

“Saya mau ke Sidareja. Liburan!? Mau kesiapa? baru pertama naik kereta ya?“ kembali lelaki itu bertanya, kali ini beberapa pertayaan langsung seakan ingin menghapus di kesunyian diantara penumpang lain yang ada didepan kami.

“Iya pak saya sudah lama tidak naik kereta. Saya mau liburan dirumah Pak lesaya di Kroya”

Aku akhirnya larut dengan obrolan bersama lelaki itu, bahkan dua penunpang lain yang ada di depan kami ikut menimpali pembicaraan kami. Kami membucarakan banyak hal seputar sulitnya perekonomian di negara ini hingga ke masalah politik. Aku sebenarnya enggan membicarakan masalah-masalah tersebut. Jenuh. Itukan sudah sering aku bicarakan dikampus. Tapi aku mencoba tetap mengikuti pembicaraan sekedar untuk menghargai sesama penumpang. Sesekali aku menengokan kepalaku ke luar jendela untuk melihat pemandangan alam. Dalam sebuah lengkungan belokan aku bisa melihat ujung belakang kereta yang kunaiki. Berulangkali aku bertasbih mengagumi indahnya ciptaan ilahi.

***

Suasana senja mulai menghiasi pemandangan diluar. Kereta yang kutunggangi masih tetap melaju sambil sesekali meringkik berbunyi. Suasana pedesaan jawa tengah mulai terlihat. Sepertinya kereta api yang ku naiki telah melalui perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat. Aku menikmati betul suasana pergantian siang dan malam di luar sana. Guratan lembayung serta lampu-lampu rumah mulai menghiasi alam diluar. Suasana di dalam kereta sedikit sepi. Mungkin para pedagang pun tahu kalau waktu sesaat lagi akan memasuki waktu maghrib. Sebagian penumpang juga sudah banyak yang turun di stasiun-stasiun kecil yang tadi dilalui.

“Alhamdulillah…” tanpa terasa bibirku mengucapkan kalimat hamdhalah ketika suara adzan maghrib mulai terdengar dari segenap penjuru pandang yang kutatap. Tiba-tiba aku teringat masjid kecil disamping rumahku yang biasa aku datangi pada saat petang seperti ini untuk shalat maghrib. Ah sepertinya aku harus men-jamashalat maghribku.

Lampu-lampu didalam ruangan gerbong satu persatu mulai menyala. Kini tinggal aku duduk sendiri diantara dua buah bangku kereta yang saling berhadapan.

“Turun dimana mas?”

Aku agak terperanjat mendengar suara berat menyapaku.

“Mm... turun di Kroya pak. Bapak turun dimana?” pertanyaan konyol sebenarnya, sebab aku tahu sebenarnya yang bertanya padaku adalah laki-laki tua yang tadi sore menawarkan jeruk dagangannya, hanya saja karena kaget sehingga pertanyaan itu yang keluar dari mulutku.

“Ooh.. saya.. saya turun dimana kereta ini berhenti.” Laki-laki tua itu kemudian duduk dibangku seberang ,disamping tempat dudukku, sambil meletakan dus yang berisi beberapa buah jeruk lagi, laki-laki tua itu kembali bertanya “Mas baru datang kesini ya?”

“Iya pak saya sudah lama tidak main ke Kroya. Saya dari Bandung pak. Bapak asli mana?” aku menjawab dan balik bertanya seolah tidak mau kalah supel.

“Saya asli dari Kroya, lengkapnya lahir dan besar di kroya dan tua di kereta...” Laki-laki tua itu menjawab pertanyaanku dengan diakhiri kekeh tawanya.

“Bapak sudah lama berjualan di kereta?” aku tertarik dengan jawaban singkatnya.

“Sudah sepuluh tahun bapak berjualan di kereta ya sekedar untuk mencari makan. Kadang siang bapak baru menemukan makan, kadang bahkan sampai malam. Tapi itulah... yah namanya juga hidup. Semuanya butuh perjuangan”. Laki-laki tua itu kembali terkekeh.

Aku terus menyimak cerita-cerita laki-laki tua itu. Sesekali aku mengagguk-anggukan kepalaku. Sorot matanya kanannya terlihat tajam menerawang jauh. Seakan ingin menembus waktu yang telah ia lalui saat ini.

Dari ceritanya aku mengetahui bahwa laki-laki tua ini dahulunya adalah seorang rakyat sipil yang pernah ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan dari kaum penjajah. Ia bercerita betapa beratnya hidup yang harus dijalani ketika itu. Meskipun dia bukan tentara, dia rela mangorbankan hidupnya untuk turut bergerilya bersama para pejuang untuk mengusir para penjajah.

Aku larut dalam cerita yang dibawakan oleh laki-laki tua itu. Fikiranku seakan ikut masuk kedalam fikirannya, menerawang jauh kemasa dimana negeri ini tengah mengalami penjajahan. Diam-diam aku mengagumi sosok tua disampingku yang tanpa pamrih telah berjasa besar pada negeri ini.

“Pikiran Bapak waktu itu adalah bukan kepada uang dan jabatan. Tapi Bapak lebik memikirkan bagaimana secepat mungkin negeri ini bisa merdeka.”

Aku semakin tertarik dengan cerita-cerita heroik yang diceritakannya. Ia mengatakan bahwa mata kirinya yang buta adalah akibat dari pecahan logam bom yang dijatuhkan dari pesawat sekutu. Begitu pula kaki kanannya yang saat ini tidak bisa dipakai berjalan dengan normal adalah akibat dari lemparan granat seorang ketika sedang melakukan sebuah serbuan ke sebuah markas tentara sekutu. Ia bahkan mengaitkan bahwa kehidupannya yang lekat dengan kereta api. Waktu itu ia sering berpindah-pindah mengungsi dengan kereta api untuk menghindari tentara sekutu, bahkan disekitar stasiun kereta Kroya, dahulu tentara sekutu sering menjatuhkan bom-bom pesawatnya.

“Lalu mengapa bapak sekarang hanya hidup dengan berjualan jeruk di kereta api? Apakah tidak ada penghargaan dari pemerintah atas perjuangan bapak? Apa bapak tidak pernah menuntutnya?”

Saking semangatnya aku memberondongkan pertanyaan kepada laki-laki tua itu.

Sesaat hening terasa. Aku merasa agak bersalah. Takut kalau-kalu pertanyaanku terlalu menyelidik.

“ Dulu banyak teman-teman bapak dari kalangan rakyat kecil yang pernah ikut berjuang diberikan penghargaan oleh pemerintah dengan dimasukan sebagai anggota militer. Tapi Bapak.... entahlah. Waktu itu nama bapak bukan yang termasuk kedalam daftar panggil yang akan diberi penghargaan. Biarlah mas.. waktu itu bapak sudah cukup senang bisa melihat bangsa ini merdeka.”

Aku terdiam mendengar jawaban laki-laki tua itu. Hatiku pun kini cukup miris jika mengingat pergaulan dan tingkah laku remaja saat ini yang tidak lagi mewujudkan rasa syukur atas nikmat kemerdekaan yang telah diberikan oleh Allah. Mereka kebanyakan hanya menghabiskan waktu hanya untuk nongkrong-nongkrong di mall, tawuran atau berfoya-foya di dalam pesta yang bernuansakan kemaksiatan.

“Bagaimana dengan keluarga bapak saat ini?”

Aku bertanya lirih. Takut kalau pertanyaanku kembali menyinggung perasaannya.

Laki-laki tua itu menarik nafas dalam-dalam. Aku tahu walaupun ruangan gerbong saat itu tidak terlalu terang oleh cahaya lampu, tapi aku bisa melihat sekilas kilapan air bening yang meleleh di ujung sela matanya. Tanpa terasa mataku ikut berkaca-kaca. Haru.

“Bapak dulu mempunyai keluarga. Istri bapak seorang pedagang sayuran dipasar mingguan. Anak bapak dua, laki-laki semua. Suatu saat dalam sebuah serangan udara, bapak mencoba berlari untuk menyelamatkan anak bapak yang masih kecil dari serang pesawat sekutu. Waktu itulah bapak berpisah dengan istri bapak yang pergi mengungsi dengan membawa anak bapak yang masih berusia tujuh tahun. Sementara anak yang paling kecil yang bapak bawa ternyata harus meninggal karena terserang diare.”

Laki-laki tua itu diam sesaat sambil menyeka air mata dengan ujung bajunya. Ia terlihat ingin mencoba menenangkan dirinya.

“....Beberapa tahun kemudian bapak mendengar bahwa istri bapak juga meninggal dipengungsian akibat sakit TBC yang dideritanya. Sementara anak bapak yang dibawa olehnya kata salah seorang teman bapak telah diambil sebagai anak pungut oleh salah seorang warga keturunan china yang ikut mengungsi.”

“Bapak tahu dimana anak bapak itu sekarang berada?”, aku bertanya singkat.

“Bapak sudah mencari kemana-mana. Pernah suatu saat bapak mendengar bahwa warga cina yang memungut anak bapak itu kini tinggal di kota Cilacap. Bapak waktu itu langsung mencari alamatnya dan langsung mendatanginya.”

“ Bapak bertemu... ?” ucapku tanpa menyelesaikan pentanyaan.

“Ya waktu itu bapak melihat seorang pemuda yang mirip sekali dengan bapak waktu muda......”

Suara laki-laki tua itu terdengar menyerak menahan tangis. Aku mengusap air hangat yang satu persatu mulai membasahi pipiku.

“....bapak waktu itu tidak cukup kuat untuk mengatakan bahwa bapak adalah ayahnya. Bapak malah berkata bahwa kedatangan bapak hanya sekedar ingin menawarkan dagangan jeruk bapak.”

Laki-laki tua itu mengakhiri ceritanya dengan tawa kekeh pelannya persis seperti yang pertama kudengar.

“Sudahlah mas, bapak memang jarang menceritakan hal ini kepada orang lain. Bapak memang suka terbawa emosi kalau bercerita tentang masa lalu bapak. Biarlah......sekarang pun bapak telah cukup hidup dengan tenang...ini juga kan nikmat dari Gusti Allah yang harus bapak syukuri. Bapak sekarang ingin beristirahat dengan tenang”

Aku terdiam....laki-laki tua itu juga terdiam....

Aku tahu dari tarikan nafasnya, bahwa kata-kata terakhirnya tadi hanya sekedar untuk menenangkan dirinya. Tapi sesaat kemudian aku telah melihat laki-laki tua itu telah tertidur pulas. Mungkin dia capek setelah seharian berjalan diantara gerbong-gerbong kereta dengan membawa dagangannya.

Para penumpang tampaknya mulai terlelap dengan tidurnya. Kebanyakan diantara mereka sepertinya mempunyai tujuan yang sama denganku ke kota Kroya. Satu jam setengah lagi kereta ini akan tiba ditujuan terakhirnya. Kota Kroya.

***

Sebenarnya mataku tidak tertutup karena tertidur. Mungkin aku masih terpengaruh oleh cerita laki-laki tua disampingku. Sungguh baru pertama kali ini aku mendengar cerita yang mengharukan dari orangnya langsung. Dalam hati aku tertawa sinis jika mencoba membandingkannya dengan cerita-cerita cengeng remaja seputar tentang cinta yang suka ada di TV-TV.

“Tooooooot….tooooooot” suara lokomotif kereta terdengar begitu keras. Aku segera berdiri mengambil tas ranselku yang kusimpan diatas rak tepat dimanan aku tadi duduk. Kulirik jam tangan yang melingkar dipergelangan tangan kiriku “ jam sembilan malam kurang lima...”

Para penumpang satu persatu mulai menuruni gerbong kereta api, banyak diantara mereka yang langsung disambut oleh para tukang becak yang berebut membawa barang bawaan para penumpang.

Beberapa langkah menuju kepintu gerbong kereta aku teringat laki-laki tua yang tadi bercerita kepadaku. Aku membalikan tubuhku melangkah kearah laki-laki tua itu. Sekilas aku lihat tadi dia masih tertidur. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih atas ceritanya yang syarat dengan hikmah.

“Pak-pak!, sudah sampai ...” aku mencoba menepuk pundak laki-laki tua itu. Tapi laki-laki tua itu tak sedikitpun bergerak. Fikirku mungkin dia sangat kelelahan sehingga tertidur pulas. Tapi perasaanku menjadi tidak enak ketika beberapa kali tepukan tanganku tidak memberikan reaksi apa-apa pada laki-laki tua itu.

“Pak.. pak...!!!” tanganku kini memegang bahu laki-laki tua itu. Bahkan kini aku menguncang-guncangkan tubuhnya dengan keras sambil memegang tangan laki-laki tua itu. Tetap sepi.....

Mataku memanas. Suaraku terasa berat. Aku mencoba menarik nafas menenangkan diri seraya mengucapkan “innalillahi wainna ilahi rajiuun”. Aku meletakan tas ransel yang tadi telah kugendong dan kemudian berlari kearah pintu gerbong untuk memanggil orang yang berada tidak jauk dari tempatku berdiri. Beberapa pedagang asongan dan penumpang lain yang masih ada di sekitar gerbong tempat aku berdiri memanggil segera berdatangan menghampiriku dan menaiki pintu gerbong tempat aku berdiri.

Setelah beberapa kali oarang-orang tersebut mencoba membangunkan laki-laki tua itu, mereka kemudian mengangkat tubuh laki-laki tua itu keluar gerbong. Diluar ternyata telah banyak orang berkerumun sekedar ingin mengetahui tentang apa yang terjadi. Sesaat walaupun aku tidak begitu mengerti akan bahasa percakapan mereka, aku bisa tahu bahwa mereka mengatakan laki-laki tua pedagang jeruk itu telah meninggal.

Aku masih terduduk lemas ditepian jalur rel kereta. Mataku sedari dari telah lembab oleh air mata. Aku memang tidak begitu menghiraukan beberapaorang yang memperhatikanku. Sesaat aku berdiri mengambil tasku dan melangkah pergi. Selamat beristirahat dengan tenang... itukan yang kau katakan tadi sebelum tidur panjangmu. Biarkan orang lain mengatakan bahwa kau hanyalah seorang lelaki tua dengan kaki pincang dan mata buta sebelah....., tapi aku menganggapmu sebagai seorang pejuang sejati. Biarlah orang lain menganggapmu sebagai seorang laki-laki tua pedagang buah jeruk...., tapi aku menganggapmu sebagai seorang pahlawan sejati...... Tapi siapakah kau....siapakah kau pahlawan sejati.............

Agus Nugroho (Kroya, Akhir tahun 2002) ~ Untuk para pahlawan...

0

I Walk Beside You

| Senin, Desember 28, 2009

I WALK BESIDE YOU adalah sebuah lagu dari album Octavarium (Dream Theater, 2005). Lagu ini sedikit berbeda dari lagu Dream Theater yang lainnya, terutama pada unsur musiknya (mungkin karena terinspirasi dari band-band British seperti Coldplay, Keane, dll). Susunan kata pada liriknya pun sangat bagus. seperti berikut:


There's a story in your eyes, I can see the hurt behind your smile, For every sign I recognize, Another one escapes me. Let me know what plagues your mind, Let me be the one to know you best, Be the one to hold you up, When you feel like you're sinking. 

Tell me once again, What's beneath the pain you're feeling, Don't abandon me, Or think you can't be saved…

I walk beside you, Wherever you are, Whatever it takes, No matter how far, Through all that may come, And all that may go, I walk beside you, I walk beside you.

Summon up your ghosts for me, Rest your tired thoughts upon my hand, Step inside the sacred place, When all your dreams seem broken, Resonate inside this temple, Let me be the one who understands, Be the one to carry you, When you can walk no further.

Tell me once again, What's below the surface bleeding, If you've lost your way, I will take you in… 

I walk beside you, Wherever you are, Whatever it takes, No matter how far, Through all that may come, And all that may go, I walk beside you, I walk beside you.

Oh… when everything is wrong, Oh… when hopelessness surrounds you, Oh… the sun will rise again, The tide you swim against will carry you back home, So don't give up… Don't give in… I walk beside you, Wherever you are, Whatever it takes, No matter how far, Through all that may come, And all that may go, I walk beside you, I walk beside you…


Klik link ini untuk mendownload lagu I Walk Beside You: Dream Theater - I Walk Beside You.mp3


6

Knowing (2009)

| Minggu, Desember 27, 2009

Sutradara ~ Alex Proyaz
Pemain ~ Nicolas Cage, Rose Byrne, Chandler Canterbury, Lara Robinson, dan Ben Mendelsohn

Bagaimana rasanya bila Anda bisa melihat apa yang tak terekam di mata orang lain, mendengar yang tidak didengar orang lain dan merasakan apa yang tidak dirasakan orang lain? Anda merasa sesuatu akan terjadi, tapi Anda tidak tahu itu apa. Apakah itu sixth sense atau halusinasi belaka?
Gadis sekolah dasar di Massachusetts, pada tahun 1959, bernama Lucinda Embry, buta tentang masa depan. Namun dialah kunci prediksi kehancuran bumi alias kiamat.

Lucinda dikenal sebagai murid yang misterius, tampangnya menyedihkan, muram dan tak banyak bicara. Sosok terasing di kelas. Namun, dia punya rahasia yang membuat seluruh hidupnya penuh tanda tanya.

Suatu hari, sekolah Lucinda mengadakan acara mengubur sebuah kapsul waktu. Kapsul yang akan dibuka kembali 50 tahun kemudian itu penuh dengan amplop. Dalam amplop-amplop itu berisi gambar anak-anak era 50-an tentang masa depan.

Anehnya, bukan gambar yang dicoretkan Lucinda dalam kertas, melainkan angka acak. Dia menuliskan angka-angka dengan sangat cepat, sampai-sampai gurunya, Ms Taylor, merampas kertas itu. Jangan salah! Bukannya Lucinda maniak angka, dia hanya menulis menuruti bisikan-bisikan di telinganya yang tak terdengar orang lain.

Saat penguburan kapsul waktu, Lucinda tiba-tiba lenyap. Dia menghilang. Semua orang mencarinya. Petugas sekolah pun dikerahkan. Ms Taylor akhirnya menemukan Lucinda. Gadis kecil itu berada di lemari dalam kondisi mengenaskan, jemarinya berlumuran darah.

Tahun 2009, saatnya kapsul waktu diangkat dari kubur. Semua murid saling berebut amplop. Caleb, salah satu murid, mendapat amplop milik Lucinda. Awalnya, ayah Caleb, John Koestler menilai amplop itu hanya keisengan anak-anak masa lalu. Namun, Caleb coba meyakinkan, amplop itu mungkin saja berguna. Penasaran, John yang berprofesi sebagai seorang profesor itu kemudian menelaah setiap digit acak yang tertera dalam kertas tua tersebut.

Mengandalkan googling, John sadar angka-angka itu bukan angka biasa. Angka-angka itu tepat merujuk pada sejumlah tragedi yang memakan korban luar biasa, termasuk peristiwa naas yang merenggut istrinya, ibunda Caleb, hingga membuat John tidak percaya Tuhan.

Setelah hari itu, kehidupan ayah-anak tersebut berubah. Tinggal tiga musibah yang belum terjadi pada 2009. Bagaimana John mengatasi keadaan ini? Sementara Caleb yang tuna rungu sejak lahir harus mendengar bisikan-bisikan, sebagaimana yang didengar Lucinda. John khawatir sekaligus ketakutan, Caleb bakal jadi korban angka berikutnya. Tapi dia tidak mungkin melepaskan diri dari takdir ini. Setelah berjuang sekuat tenaga, menelusuri musibah serta menyusuri kembali jejak Lucinda Embry, John mendapatkan jawaban.

Knowing adalah sebuah novel karya Ryne Douglas Pearson, yang kemudian diterjemahkan dalam bentuk film di bawah arahan sutradara Alex Proyas. Film yang dirilis kali pertama pada 20 Maret 2009, ini akrab dengan nuansa thriller yang cukup suram. Boleh dibilang, hampir semua penokohan dalam cerita menguras emosi dan kegelisahan.

Inti dari pesan yang ingin disampaikan penulis agaknya tidak jauh beda dari film The Eye. Namun, film yang dibintangi Nicolas Cage ini unggul di tingkat kedalaman kisah. Betapa tidak, Pearson berani mengangkat sisi spiritualitas yang selama ini identik dengan dunia Timur. Dia menggabungkannya dengan derajat ilmiah, teknologi, dan pola pikir realistis ala dunia Barat. Tapi, Knowing bukanlah film hantu.

Pearson sukses menyelundupkan ide sekaligus mendekonstruksi kebenaran tentang sejarah penciptaan alam semesta. Estetika berpikir penulis seakan membongkar paksa pemahaman individu terhadap realita dan kebenaran sejarah peradaban. Bahwa semua yang terjadi di dunia sudah tertulis, tercatat rapi: yang lahir, yang mati, yang datang dan yang pergi. Dan hanya ‘yang terpilih’-lah yang akan menciptakan generasi baru setelah memakan buah Khuldi.
Anda boleh percaya, boleh pula tidak. Karena ini cuma film, hanya cerita: rekonstruksi dari konstruksi atas realitas, yang bisa jadi Anda yakini, bisa pula tidak.

dikutip dari modelayu.com
4

Scenes From A Memory (Dream Theater, 1999)

| Selasa, Desember 22, 2009

Seorang pria bernama Nicholas, belakangan ini mendapat mimpi-mimpi buruk yang yang memperlihatkan gambaran seorang wanita bernama Victoria dan kejadian pembunuhan. Nicholas menemui seorang psikoterapist untuk menghipnotisnya ke alam mimpi dan melihat kehidupan wanita tersebut yang seakan sangat nyata seperti kehidupan miliknya sendiri. Setelah dihipnotis Nicholas mulai lebih jelas bahkan dapat berkomunikasi dengan wanita tersebut.

Wanita yang bernama Victoria tersebut ingin menyampaikan sesuatu kepada Nicholas, suatu kejadian tentang dirinya pada tahun 1928 yang belum terkuak kebenarannya. Nicholas merasa entah bagaimana kehidupan Victoria sangat terkait dengan kehidupan nyata yang dijalaninya. Maka dia bertekad menemukan kebenarannya lewat mimpi-mimpinya agar dapat hidup tenang lagi.

Pada mimpi selanjutnya Nicholas bertemu dengan seorang pria tua yang memberikan informasi bahwa telah terjadi pembunuhan terhadap seorang wanita yang tak lain adalah Victoria yang belum terkuak kebenarannya sampai saat ini. Dari poin ini Nicholas mulai mengerti bahwa Victoria ingin Nicholas mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Kemudian Nicholas menemukan sebuah koran yang memberitakan pembunuhan Victoria. Seorang saksi mata bernama Edward bercerita bahwa dia menemukan sang gadis ditembak mati dan kemudian penembaknya yang bernama Julian bunuh diri. Diberitakan bahwa insiden itu terkait dengan cinta segitiga. Tapi ada hal aneh dimana Julian menulis kata-kata “rather kill himself than live without Victoria“, sedangkan di tangan Victoria ditemukan sebilah pisau. Nicholas semakin mengerti ceritanya tetapi tahu masih ada yang tidak beres. Ia mengunjungi makam Victoria dan entah kenapa merasa sangat sedih akan insiden yang dialami Victoria.

Mimpi selanjutnya menceritakan bahwa Julian dan Victoria saling mencintai, akan tetapi saat ini Victoria sedang menjalin hubungan dengan Edward kakak Julian. Victoria semakin menjauh dari Edward dan mulai terjadi perselingkuhan antara Victoria dan Julian. Victoria khawatir seandainya Edward tahu tentang hal ini dia akan berbuat nekat membunuh adiknya.

Pada suatu malam Edward mengikuti Victoria dan menemukan dia bersama Julian sedang bercinta. Edward langsung kalut dan mencabut pistol. Julian dan Victoria berusaha melarikan diri dan Julian menghunus sebilah pisau. Akhirnya Edward menembak mati Julian dan Victoria. Sebelum menembak mati Victoria Edward berkata : “OPEN YOUR EYES VICTORIA!!!“. Kemudiani Edward yang seorang politikus ternama pada zaman itu memodifikasi TKP dengan meletakkan pisau di tangan Victoria dan pistol di tangan Julian. Kemudian di dekat mayat Julian ia tuliskan dalam selembar kertas bahwa Julian putus asa cintanya ditolak Victoria dan memutuskan untuk membunuh Victoria dan dirinya sendiri karena dia lebih baik mati daripada hidup sendiri. Dengan bukti-bukti tersebut Edward bebas dari dugaan pembunuhan karena dia juga mengaku sebagai saksi pembunuhan tersebut.

Nicholas yang telah mengetahui cerita yang sebenarnya akhirnya pun menyadari bahwa dirinya adalah reinkarnasi dari Victoria, makanya dirinya merasa sangat dekat dengan Victoria. Nicholas pun tidak bermimpi hal-hal aneh lagi. Kemudian Nicholas pulang ke rumahnya dengan tenang. Akan tetapi, di rumahnya telah ada seseorang dan seseorang tersebut adalah sang psikoterapist. Nicholas terkejut saat sang psikoterapist berkata : “OPEN YOUR EYES NICHOLAS!!!” (sang psikoterapist adalah reinkarnasi Edward !!)

***

kisah ini dibuat oleh dream theater untuk menyusun album konsep mereka yang berjudulMetropolis part2: Scenes From A Memory(1999). Album ini juga sambungan dari sebuah lagu yang berjudul Metropolis part1: The Miracle and The Sleeper (Images And Word - 1992)

0

Don't think you can't be save...

|

Jam di handphoneku sudah menunjukkan pukul 17.10 WIB. Aku tahu ini memang sudah terlalu sore untuk pulang jika tidak ingin dihadang kemacetan lalu lintas. Aku segera berdiri dan lansung menuju operator untuk membayar bill pemakaian. “Berapa?” tanyaku seperti biasanya. “Tiga ribu rupiah” jawabnya tak lama setelah melihat tagihanku yang tertera di layar komputernya. Tanpa pikir panjang, aku lansung memberikan tiga ribu rupiah tersebut dan keluar dari warnet tersebut. Sambil memasang sepatu, aku selalu memperhatikan sekitar. Tidak seperti biasanya. Ternyata hanya kami berdua (aku dan temanku yang masih main di warnet) saja siswa shift pagi yang masi berada di dekat lingkungan sekolah.

Saat sudah diatas angkot (angkutan kota). Aku sedikit kecewa karena didalam angkot ini hanya ada aku dan supirnya. “Bisa tambah lama nih sampai dirumah” pikirku dalam hati karena angkot ini bisa saja ngetem di RSUP. Tak lama kemudian, Naiklah seorang nenek yang ingin pergi ke pasar. “sama saja...” pikirku lagi.

Jalan yang sempit dan ditambah dengan pusat-pusat pendidikan dan perkantoran menambah semrawutnya lalu lintas di daerah ini. Seharusnya disini dibuat jalan layang untuk menghindari kemacetan. Ingin sekali untuk melakukannya jika aku menjadi Wali Kota Padang, tetapi jabatan itu bukan merupakan cita-citaku.

Angkot ini berjalan semakin lambat karena macet. Hal yang paling aku benci dalam perjalanan. “aneh... kenapa dia (supir angkot) menggantung koplingnya di tempat dan kondisi seperti ini?” pikirku dalam hati sambil melihat kearah kaki kirinya. Tiba-tiba saja hentakan keras membuatku terkejut. Membantingku kedepan dan belakang. Nenek yang naik setelahku tadi lansung terduduk di lantai mobil saat hentakan itu terjadi. Ia pun membaca kalimat istighfar secara terus-menerus.

“Gempa” aku sedikit bergumam saat sadar bahwa ini adalah gempa. Yang pertama kali terlihat saat itu ialah air di selokan yang lumayan besar, tetapi percikan airnya tinggi sekali. Lalu aku melihat gerobak gorengan yang masih terbanting walaupun sudah rebah sembilan puluh derjat. Orang-orang terduduk di tanah. Tidak ada satupun diantara mereka yang mampu berdiri. Begitu juga para pengendara sepeda motor. Asap-asap kebakaran yang hitam pekat menyelimuti udara. Setelah melihat itu semua, aku sedikit bergimam lagi “Besar Sekali...”

Saat gempa sudah berhenti, semua orang terdiam selama beberapa detik. Lalu mereka sibuk menyelamatkan diri masing-masing tanpa terlalu mempedulikan barang bawaan mereka. Termasuk angkot yang saya tumpangi tersebut. Karena putar arah, terpaksa aku turun di tempat itu dan berjalan kaki untuk sampai dirumah. Selalu kucoba untuk menghubungi keluargaku yang ada dirumah, tetapi gagal.

Perjalanan yang harus kutempuh dengan jalan kaki lumayan jauh. Dari Fakultas Kedokteran UNAND sampai Asrama NI-AD Parak Pisang. Suara knalpot kendaraan, tangisan, dan pekikan orang-orang menambah paniknya suasana. Tetapi untung saja aku masih bisa tenang disaat-saat seperti itu.

Tak lama setelah itu, gempa dengan skala kecil kembali mengguncang

***

"Pa, isan sudah pulang” teriak kakakku (Nila Husandi, saudara perempuanku) ketika melihatku datang. “Siapa aja yang ada dirumah? Mana mama?” tanyaku. “Lihat saja. Tadi ada Da Ipo (Rivo Husandi, saudaraku yang paling tua), tapi tadi dia nyari kamu karna blum pulang. Mama kan ke Pekanbaru, baru berangkat minggu kmaren, lupa ya?”. “Eh...”. Sejenak aku terdiam, dan lansung masuk ke dalam rumah untuk melihat keadaan dan mengambil barang yang harus diselamatkan.

Rumahku berantakan. Untuk masuk kedalam harus menggunakan sendal. Lemari yang biasanya digunakan untuk menyimpan sambal dan makanan lainnya jatuh dan ditahan oleh meja makan. Dibawahnya pecahan piring, minyak, air, kuah makanan, botol-botol sirup sisa Idul Fitri bercampur aduk di lantai. Di sisi lainnya, pecahan kaca dari lampu semprong juga berserakan. Lemari televisi juga bergeser ke tengah. Lantai kamarku penuh dengan kertas-kertas. Dan kipas angin yang berada diatas lemari jatuh kebawah.

Aku sempat merasa tidak yakin bahwa semuanya akan kembali seperti semula secepat ini. Pagar rumahku runtuh. Dinding belakang juga bernasib sama. Alhasil, beberapa ruangan dirumahku tidak memiliki pembatas dengan pekarangan tetangga yang berada dibelakan rumahku. Semuanya lepas dan tak berbatas. Debu pasir dari bangunan belanda yang roboh di belakang rumahku masuk kedalam rumah. Kotor sekali...

6

Chairil Anwar

| Rabu, Desember 09, 2009
CHAIRIL ANWAR lahir di Medan, Sumatera Utara pada 26 Juli 1922, meninggal di Jakarta tanggal 28 April 1949 pada umur 26 tahu. Chairil Anwar dikenal sebagai "Si Binatang Jalang" (dalam karyanya berjudul Aku). Ia adalah penyair terkemuka Indonesia. Bersama Asrul Sani dan Rivai Apin, ia dinobatkan oleh H.B. Jassin sebagai pelopor Angkatan '45 dan puisi modern Indonesia.

Masa Kecil
Dilahirkan di Medan, Chairil Anwar merupakan anak tunggal. Ayahnya bernama Toeloes, mantan bupati Indragiri Riau, berasal dari nagari Taeh Baruah, Limapuluh Kota, Sumatra Barat. Sedangkan dari pihak ibunya, Saleha yang berasal dari nagari Situjuh, Limapuluh Kota dia masih punya pertalian keluarga dengan Sutan Sjahrir, Perdana Menteri pertama Indonesia. Chairil masuk sekolah Holland Indische school (HIS), sekolah dasar untuk orang-orang pribumi waktu penjajah Belanda. Dia kemudian meneruskan pendidikannya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs, sekolah menengah pertama belanda, tetapi dia keluar sebelum lulus. Dia mulai untuk menulis sebagai seorang remaja tetapi tak satupun puisi awalnya yang ditemukan.
Pada usia sembilan belas tahun, setelah perceraian orang-tuanya, Chairil pindah dengan ibunya ke Jakarta di mana dia berkenalan dengan dunia sastera. Meskipun pendidikannya tak selesai, Chairil menguasai bahasa Inggris, bahasa Belanda dan bahasa Jerman, dan dia mengisi jam-jamnya dengan membaca pengarang internasional ternama, seperti: Rainer M. Rilke, W.H. Auden, Archibald MacLeish, H. Marsman, J. Slaurhoff dan Edgar du Perron. Penulis-penulis ini sangat mempengaruhi tulisannya dan secara tidak langsung mempengaruhi puisi tatanan kesusasteraan Indonesia.

Masa Dewasa
Nama Chairil mulai terkenal dalam dunia sastera setelah pemuatan tulisannya di "Majalah Nisan" pada tahun 1942, pada saat itu dia baru berusia dua puluh tahun. Hampir semua puisi-puisi yang dia tulis merujuk pada kematian. Chairil ketika menjadi penyiar radio Jepang di Jakarta jatuh cinta pada Sri Ayati tetapi hingga akhir hayatnya Chairil tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya. Semua tulisannya yang asli, modifikasi, atau yang diduga diciplak dikompilasi dalam tiga buku : Deru Campur Debu (1949); Kerikil Tajam Yang Terampas dan Yang Putus (1949); dan Tiga Menguak Takdir (1950, kumpulan puisi dengan Asrul Sani dan Rivai Apin).

Akhir Hidup
Vitalitas puitis Chairil tidak pernah diimbangi kondisi fisiknya, yang bertambah lemah akibat gaya hidupnya yang semrawut. Sebelum dia bisa menginjak usia dua puluh tujuh tahun, dia sudah kena sejumlah penyakit. Chairil Anwar meninggal dalam usia muda karena penyakit TBC. Dia dikuburkan di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta. Makamnya diziarahi oleh ribuan pengagumnya dari zaman ke zaman. Hari meninggalnya juga selalu diperingati sebagai Hari Chairil Anwar.

dikutip dari wikipedia.org
9

Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA)

| Kamis, Desember 03, 2009
HAMKA (1908-1981), adalah akronim kepada nama sebenar Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah. Ia adalah seorang ulama, aktivis politik dan penulis Indonesia yang amat terkenal di alam Nusantara. Ia lahir pada 17 Februari 1908 di kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat, Indonesia. Ayahnya ialah Syeikh Abdul Karim bin Amrullah atau dikenali sebagai Haji Rasul, seorang pelopor Gerakan Islah (tajdid) di Minangkabau, sekembalinya dari Makkah pada tahun 1906.

Hamka mendapat pendidikan rendah di Sekolah Dasar Maninjau sehingga kelas dua. Ketika usia HAMKA mencapai 10 tahun, ayahnya telah mendirikan Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Di situ Hamka mempelajari agama dan mendalami bahasa Arab. Hamka juga pernah mengikuti pengajaran agama di surau dan masjid yang diberikan ulama terkenal seperti Syeikh Ibrahim Musa, Syeikh Ahmad Rasyid, Sutan Mansur, R.M. Surjopranoto dan Ki Bagus Hadikusumo.
Hamka mula-mula bekerja sebagai guru agama pada tahun 1927 di Perkebunan Tebing Tinggi, Medan dan guru agama di Padang Panjang pada tahun 1929. Hamka kemudian dilantik sebagai dosen di Universitas Islam, Jakarta dan Universitas Muhammadiyah, Padang Panjang dari tahun 1957 hingga tahun 1958. Setelah itu, beliau diangkat menjadi rektor Perguruan Tinggi Islam, Jakarta dan Profesor Universitas Mustopo, Jakarta. Dari tahun 1951 hingga tahun 1960, beliau menjabat sebagai Pegawai Tinggi Agama oleh Menteri Agama Indonesia, tetapi meletakkan jabatan itu ketika Sukarno menyuruhnya memilih antara menjadi pegawai negeri atau bergiat dalam politik Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi).

Hamka adalah seorang otodidiak dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti filsafat, sastra, sejarah, sosiologi dan politik, baik Islam maupun Barat. Dengan kemahiran bahasa Arabnya yang tinggi, beliau dapat menyelidiki karya ulama dan pujangga besar di Timur Tengah seperti Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas al-Aqqad, Mustafa al-Manfaluti dan Hussain Haikal. Melalui bahasa Arab juga, beliau meneliti karya sarjana Perancis, Inggris dan Jerman seperti Albert Camus, William James, Sigmund Freud, Arnold Toynbee, Jean Paul Sartre, Karl Marx dan Pierre Loti. Hamka juga rajin membaca dan bertukar-tukar pikiran dengan tokoh-tokoh terkenal Jakarta seperti HOS Tjokroaminoto, Raden Mas Surjopranoto, Haji Fachrudin, Ar Sutan Mansur dan Ki Bagus Hadikusumo sambil mengasah bakatnya sehingga menjadi seorang ahli pidato yang handal.

Hamka juga aktif dalam gerakan Islam melalui organisasi Muhammadiyah. Ia mengikuti pendirian Muhammadiyah mulai tahun 1925 untuk melawan khurafat, bidaah, tarekat dan kebatinan sesat di Padang Panjang. Mulai tahun 1928, beliau mengetuai cabang Muhammadiyah di Padang Panjang. Pada tahun 1929, Hamka mendirikan pusat latihan pendakwah Muhammadiyah dan dua tahun kemudian beliau menjadi konsul Muhammadiyah di Makassar. Kemudian beliau terpilih menjadi ketua Majlis Pimpinan Muhammadiyah di Sumatera Barat oleh Konferensi Muhammadiyah, menggantikan S.Y. Sutan Mangkuto pada tahun 1946. Ia menyusun kembali pembangunan dalam Kongres Muhammadiyah ke-31 di Yogyakarta pada tahun 1950.
Pada tahun 1953, Hamka dipilih sebagai penasihat pimpinan Pusat Muhammadiah. Pada 26 Juli 1977, Menteri Agama Indonesia, Prof. Dr. Mukti Ali melantik Hamka sebagai ketua umum Majlis Ulama Indonesia tetapi beliau kemudiannya meletak jawatan pada tahun 1981 karena nasihatnya tidak dipedulikan oleh pemerintah Indonesia.

Kegiatan politik Hamka bermula pada tahun 1925 ketika beliau menjadi anggota partai politik Sarekat Islam. Pada tahun 1945, beliau membantu menentang usaha kembalinya penjajah Belanda ke Indonesia melalui pidato dan menyertai kegiatan gerilya di dalam hutan di Medan. Pada tahun 1947, Hamka diangkat menjadi ketua Barisan Pertahanan Nasional, Indonesia. Ia menjadi anggota Konstituante Masyumi dan menjadi pemidato utama dalam Pilihan Raya Umum 1955. Masyumi kemudiannya diharamkan oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1960. Dari tahun 1964 hingga tahun 1966, Hamka dipenjarakan oleh Presiden Sukarno karena dituduh pro-Malaysia. Semasa dipenjarakanlah maka beliau mulai menulis Tafsir al-Azhar yang merupakan karya ilmiah terbesarnya. Setelah keluar dari penjara, Hamka diangkat sebagai anggota Badan Musyawarah Kebajikan Nasional, Indonesia, anggota Majelis Perjalanan Haji Indonesia dan anggota Lembaga Kebudayaan Nasional, Indonesia.

Selain aktif dalam soal keagamaan dan politik, Hamka merupakan seorang wartawan, penulis, editor dan penerbit. Sejak tahun 1920-an, Hamka menjadi wartawan beberapa buah akhbar seperti Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam dan Seruan Muhammadiyah. Pada tahun 1928, beliau menjadi editor majalah Kemajuan Masyarakat. Pada tahun 1932, beliau menjadi editor dan menerbitkan majalah al-Mahdi di Makasar. Hamka juga pernah menjadi editor majalah Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat dan Gema Islam.

Hamka juga menghasilkan karya ilmiah Islam dan karya kreatif seperti novel dan cerpen. Karya ilmiah terbesarnya ialah Tafsir al-Azhar (5 jilid) dan antara novel-novelnya yang mendapat perhatian umum dan menjadi buku teks sastera di Malaysia dan Singapura termasuklah Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Di Bawah Lindungan Kaabah dan Merantau ke Deli.
Hamka pernah menerima beberapa anugerah pada peringkat nasional dan antarabangsa seperti anugerah kehormatan Doctor Honoris Causa, Universitas al-Azhar, 1958; Doktor Honoris Causa, Universitas Kebangsaan Malaysia, 1974; dan gelar Datuk Indono dan Pengeran Wiroguno dari pemerintah Indonesia.

Hamka telah pulang ke rahmatullah pada 24 Juli 1981, namun jasa dan pengaruhnya masih terasa sehingga kini dalam memartabatkan agama Islam. Ia bukan sahaja diterima sebagai seorang tokoh ulama dan sasterawan di negara kelahirannya, malah jasanya di seluruh alam Nusantara, termasuk Malaysia dan Singapura, turut dihargai.

dikutip dari wikipedia.org

2

Michael "Mike" Stephen Portnoy

|


Nama lengkap ~ Michael Stephen Portnoy
Lahir ~
April 20, 1967
Tinggi ~ 5 ‘10”
Warna rambut ~ Hitam
Warna mata ~ Hijau
Website ~ mikeportnoy.com
Equipment ~ Starclassic Tama drum, Melody Master Snares, Sabian dan Max Sabian Cymbals, Remo kepala, Iron Cobra Pedals, Pro-Mark 420 drumsticks dan Latin Percussion

FAVORITES...
Direksi ~ Woody Allen, David Lynch, Stanley Kubrick
Aktor ~ Robert De Niro, Jack Nicholson, Al Pacino
Olahraga ~ Tinju
Acara TV ~ Twin Peaks, The Simpsons, The Twilight Zone, The Sopranos
Makanan ~ Makanan siap saji, terutama Taco Bell
Minum ~ Digunakan untuk menjadi Jägermeister, bir. Tidak minum lagi.

***

Mike Portnoy lahir pada 20 April 1967 dan dibesarkan di Long Beach, New York, di mana minatnya pada musik dimulai pada usia dini. “Ayahku adalah seorang rock n ‘roll disk jockey, jadi saya selalu dikelilingi oleh musik terus-menerus. Saya punya koleksi catatan besar ketika saya masih muda dan dicintai nyata The Beatles dan kemudian di Kiss. Tidak bisa dihindari bahwa saya akan menjadi seorang musisi. ”

Meskipun Mike belajar sendiri cara memainkan drum, dia mengambil kelas-kelas teori musik di sekolah menengah. Selama masa itu ia mulai bermain di band-band lokal Intruder, Rising Power dan Inner Sanctum, yang terakhir yang merilis album mereka sendiri. Mike meninggalkan band setelah mendapat beasiswa untuk menghadiri Musik Berklee College di Boston.

Kolektor keranjingan banyak hal, Mike memiliki luas array of Dream Theater memorabilia termasuk bootlegs, poster, kliping dan segala sesuatu di bawah matahari dengan nama band di atasnya. Ia juga bertanggung jawab untuk menangkap semua band tidak di video rekaman dan DAT. Koleksi video yang besar termasuk film favorit tahun 2001, A Clockwork Orange, Jacob’s Ladder dan The Wall bersama dengan episode The Simpsons dan mengesankan pertandingan tinju.

Mike mengatakan bahwa pengaruh terbesar adalah Rush drummer Neil Peart dan almarhum Frank Zappa. Drumer favorit lainnya termasuk Terry Bozzio, Vinnie Colaiuta, Simon Philips, John Bonham dan Keith Moon dan band-band seperti The Beatles, Queen, Yes, Metallica, Jellyfish, Iron Maiden, U2 dan Jane’s Addiction. Dia juga seorang penggemar musik rap.

0

Steve Vai

|
Steve Vai lahir di Carle Place, New York, 6 Juni 1960. Ia adalah seorang gitaris, penulis lagu, penyanyi dan produser yang berasal dari Amerika Serikat...

Group Band Saat Ini ~ Steve Vai
Group Band Sebelumnya ~ Hot Chocolate, The Ohio Express, Circus, Rayge, Bold As Love, Axis, Morning Thunder, Frank Zappa, The Out Band, The Classified, 777, Alcatrazz, David Lee Roth, Whitesnake
Pengaruh ~ Joe Satriani, Frank Zappa
Gitar ~ Ibanez Universe, Ibanez JEM

Permainannya mulai dari blues, jazz, rock sampai klasik dan ethnic music. Permainan gitarnya pun tidak terbatas pada komunitas gitar saja tetapi juga bagi orang-orang awam yang tidak mendalami gitar. Pada umur 6 tahun, Steve mulai belajar piano. Pada umur 10 tahun, Steve mulai belajar bermain akordeon. Pada umur 13 tahun barulah Steve mulai mendalami gitar dan sejak saat itu lahirlah seorang dewa gitar yang baru. Steve Vai mengawali karirnya dengan album debutnya Flex-Able Leftovers pada tahun 1984. Pada tahun 1990, Steve merilis album keduanya yang berjudul Passion and Warfare. Album ini mendapat pengakuan internasional dan Steve memenangkan polling pembaca majalah Guitar Player dalam 4 kategori yang berbeda. Album Steve yang ketiga berjudul Sex & Religion dirilis tahun 1993 dan album keempatnya Alien Love Secrets dirilis tahun 1995. Pada tahun 1996 album kelima Steve Fire Garden dirilis. Tahun 1999, Steve meluncurkan album keenamnya yang berjudul Ultra Zone. Dalam album ini Steve lebih banyak memfokuskan dirinya dalam komposisi lagu dan bereksperimen dengan gitarnya. Tahun 2001 album The Seventh Song dirilis dan album ini berisi lagu-lagu slow/ballad yang pernah dirilis Steve dengan ditambah beberapa lagu baru. Dan di tahun 2001 Alive in an Ultra World pun dirilis. Steve Vai juga pernah memproduksi 2 album Natal yang berjudul Merry Axemas Vol.1 dan Merry Axemas Vol.2, juga konser G3 bersama Joe Satriani dan Eric Johnson/Kenny Wayne Shepherd dan terakhir John Petrucci turut juga bergabung dalam G3. Belakangan ini Steve Vai lebih memfokuskan diri bereksperimen pada permainan gitarnya dan sekarang ini band Steve Vai ditambah seorang pemain bass yang sudah tidak asing lagi buat fans-fans rock tahun 80-an, Billy Sheehan.

dikutip dari
dhevai